number of visitors on my blog

Pages

Senin, 08 Agustus 2011

Analisis Novel - Moga Bunda disayang Allah

Pengorbanan Seorang Bunda



Judul                           : Moga Bunda Disayang Allah
Penulis                         : Tere Liye
No. ISBN                    : 979321079-b
Penerbit                       : Republika
Cetakan ke                  : 9
Tanggal Terbit             : Mei 2011
Jumlah Halaman          : 306
            Tere Liye merupakan nama pena dari seorang novelis yang diambil dari bahasa India dengan arti: Untuk Mu. Tere Liye yang bernama asli Drawis tidak menggunakan nama asli untuk novelnya. Salah satu karya Tere Liye adalah Moga Bunda Disayang Allah.       
            Novel ini mengisahkan seorang anak berusia 6 tahun bernama Melati yang buta,tuli, sekaligus bisu, karena kekurangannya Melati menjadi terputus dari dunia luar. Sebenarnya Melati tidak buta,tuli, dan bisu dari lahir, kekurangan Melati disebabkan kejadian 3 tahun yang lalu saat Melati berusia 3 tahun. Kejadian tersebut terjadi ketika Melati dan keluarganya sedang berlibur ke Pulau Makronesia, ketika Melati sedang bermain tiba – tiba Melati jatuh terduduk hanya karena jatuh terduduk Melati mengalami buta,tuli dan bisu. Sejak kejadian itu Melati menjadi anak yang tidak dapat dikendalikan selalu melemparkan dan menjatuhkan apa saja yang dipegangnya. Kedua orang tua melati adalah orang terpandang di kotanya yang mempunyai bisnis pabrik kursi plastik hingga pupuk mendatangkan tim dokter dari luar negeri untuk menyembuhkan Melati. Namun tim dokter menyerah dan malah menganngap melati sakit jiwa hingga membuat orang tuanya sakit hati karena anaknya dianggap orang gila. Tak heran bila tim dokter menganggap Melati orang gila karena tingkahnya yang liar selalu melempar dan menjatuhkan barang yang dipegangnya.
            Pada suatu hari para tetangga memberitahu bunda HK untuk meminta bantuan kepada pemuda yang bernama Karang. Karang adalah pemuda yang selalu keluar malam hari dan pulang dini hari untuk pergi minum mabuk – mabukan. Karang adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh ibu – ibu gendut. Pada awalnya Karang adalah orang yang ramah dan suka pada anak- anak Karang juga mendirikan taman bacaan bagi anak yatim piatu ataupun kurang mampu, Karang juga adalah orang yang berpendidikan dia juga sempat menuntut ilmu di ibu kota. Namun peringai Karang berubah menjadi kasar  karena kejadian 3 tahun yang lalu. Saat Karang dan 18 anak asuhnya menumpangi perahu tiba – tiba terjadi badai besar yang menenggelamkan kapal itu. Korban dari preristiwa tersebut adalah Qintan. Qintan tewas saat berada dipelukan Karang, tubuh Qintan terbujur kaku dengan membawa boneka panda.
             Akhirnya hati Karang terketuk mau membimbing Melati dengan sabar dan tentu saja dengan izin Allah SWT sedikit demi sedikit Melati dapat belajar dan mengerti bahwa tidak semua barang untuk dilempar.
            Kekurangan dari novel ini adalah ada kata - kata yang selalu diulang – ulang contohnya “Melati yang terlahir sangat lucu menggemaskan, rambut ikalnya mengombak, pipinya tembam seperti donut, matanya hitam legam seperti biji buah leci dan giginya kecil bak gigi kelinci” dan “ibu – ibu gemuk” yang artinya menggambarkan ibu yang bertubuh besar dan subur. Juga terdapat kesalahan penulisan seperti menulis “yang” tetapi ditulis )ang. Latar tempat yang ditunjukan pada novel ini kurang beragam hanya komplek rumah gang sempit,kamar karang dan rumah besar di lereng bukit beserta ruangan di dalamnya. Nama tokoh bunda HK dan tuan HK kurang begitu jelas apa arti ataupun singkatan dari HK.
                Kelebihan dari novel ini adalah penulis selalu menggambarkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Dalam novel ini penulis juga selalu mengingatkan pembaca bahwa Allah Swt bersikap adil kepada makhlukNya “Hidup ini adil, sungguh Allah Maha Adil, kitalah yang terlalu bebal sehingga tidak tahu dimana letak keadilanNya, namun bukan berarti Allah tidak adil”. Novel ini juga mengisahkan perjuangan anak berusia 6 tahun dan pemuda  bernama Karang agar dapat hidup normal kembali karena kejadian 3 tahun yang lalu. Dalam novel ini juga banyak  pelajaran kehidupan yang dapat diambil diantaranya walaupun kita mempunyai banyak kekurangan lantas tidak membuat kita lemah. Akan ada berjuta cara untuk menutupi kekurangan kita.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar